Orang Yang Memiliki Aksen Yang Lantang Dan Keras Bukan Berarti Mereka Galak

Bijak Dalam Mengemukakan Opini Ataupun Kritikan Dalam Media Sosial

Kita sering menjajaki orang mengatakan bila orang Zona itu keras. Orang Sulawesi itu keras, orang Papua, Ambon, Maluku, mereka orangnya keras- keras. Statment ini bisa terkabul, atau pandangan ini bisa terkabul karena aksen mereka yang bergaung dan keras. Sejenis kita ketahui mereka bila berbahas suaranya besar, dan logatnya pula sejenis orang merajuk. Terlebih apabila bertemu dengan orang jawa begitu ini, orang jawa yang lembut, kalem, yang betul- benar halus. Dan bertemu dengan orang yang sejenis itu pasti akan merasa amat berbeda jauh, dan akan ada culture shock.

Orang Yang Memiliki Aksen Yang Lantang Dan Keras Bukan Berarti Mereka Galak

Dan itu natural. Banyak terangkai pula. Natural memanglah, karena tidak terbiasa dengan tata cara yang berbeda. Yang dari kalem berjumpa yang bergaung dan nyata, pasti akan kaget. Namun bukan berarti mereka berbahas dengan bergaung, dengan keras, dan mereka ialah orang yang keras, dan kasar. Atau kejam pemangsa bawang dan lain serupanya. Karena banyak orang salah memaksudkan Mengenai itu. Dan itu amat disayangkan. Janganlah hanya memperkirakan dari logatnya saja. Itu hanya cuma aksen. Cuma bawaan. Itu tidak bisa dijadikan kriteria untuk memperkirakan seseorang. Karena karakter seseorang itu tidak ada jalinan dengan aksen seseorang.

Itu ialah 2 Mengenai yang berbeda. Jadi cobalah untuk tidak amat menjudge seseorang. Karena itu tidak baik. Itu keliru, janganlah biasakan aksi itu. Malah banyak banyak orang mereka, yang logatnya keras dan bergaung, mereka malah memiliki hati yang baik, mereka memiliki jiwa kemanusiaan yang besar, mereka memiliki empati dan simpati kasih yang besar, rasa kekeluargaannya besar. Malah orang yang berbahas halus, lemah, mereka yang memiliki hati busuk, ambisi kejam. Jadi janganlah luang jadikan aksen berlaku seperti kriteria memperkirakan seseorang.

Aksen seseorang bisa bergaung dan keras, namun hati mereka belum tentu sejenis itu. Bisa jadi mereka lebih berperikemanusiaan dari umumnya orang. Dan itu banyak terangkai. Mereka hanya keras di celotehan, kata- tuturnya dapat jadi keras, nyata, nyeletuk. Namun itu realitas, itu realita. Walhasil mereka sudah profesional intelektual dengan Mengenai itu. Walhasil biasanya mereka ialah banyak orang yang memiliki intelektual yang matang.